akhir dari privasi di ruang publik

bisakah kita menolak direkam oleh kacamata pintar orang lain

akhir dari privasi di ruang publik
I

Pernahkah kita sedang duduk santai di kedai kopi, mungkin sambil bengong memikirkan cicilan atau tanpa sadar menggaruk hidung, lalu tiba-tiba kita merasa diawasi? Kita menoleh dan melihat seseorang di meja seberang. Dia tidak memegang ponsel. Dia hanya duduk minum kopi. Tapi, dia memakai kacamata hitam dengan lampu LED super kecil yang berkedip pelan di ujung bingkainya. Seketika, jantung kita berdegup sedikit lebih cepat. Kita tiba-tiba merapikan postur duduk. Kita bertanya-tanya dalam hati: apakah saya baru saja jadi latar belakang video TikTok orang ini?

Selamat datang di era kacamata pintar, teman-teman. Sebuah era di mana batasan antara ruang publik dan studio rekaman telah lenyap sepenuhnya. Kita kini hidup di masa di mana siapa saja bisa menjadi juru kamera amatir tanpa terlihat sedang memegang kamera. Pertanyaan yang kemudian menghantui kita sangatlah sederhana, namun mendalam: di tengah lautan lensa tak kasat mata ini, bisakah kita menolak untuk direkam?

II

Untuk menjawab kegelisahan itu, mari kita mundur sebentar. Jauh sebelum ada kacamata pintar keluaran Meta atau Apple, umat manusia sebenarnya pernah mengalami kepanikan massal yang persis sama. Tahunnya adalah 1888. Saat itu, George Eastman merilis kamera portabel pertama di dunia: Kodak. Sebelum momen itu, difoto adalah acara sakral. Kamera itu sebesar kulkas kecil, butuh persiapan panjang, dan orang harus diam mematung.

Lalu tiba-tiba, kamera Kodak seharga 25 dolar muncul. Orang-orang bisa menentengnya ke jalan raya, ke taman, atau ke pantai. Secara historis, ini menciptakan histeria. Orang-orang saat itu merasa ngeri karena wajah mereka bisa "dicuri" diam-diam oleh para fotografer amatir yang saat itu dijuluki camera fiends (iblis kamera). Saking paniknya, pada tahun 1890, dua pengacara bernama Samuel Warren dan Louis Brandeis menulis esai legendaris berjudul The Right to Privacy. Dari sanalah konsep "hak atas privasi" yang kita kenal sekarang lahir secara hukum.

Jadi, ketakutan kita saat melihat kacamata pintar di kedai kopi itu sangat manusiawi. Itu adalah insting purba kita yang merasa ruang amannya diretas. Bedanya, kamera Kodak zaman dulu masih terlihat wujudnya. Sekarang? Lensa itu menyamar menjadi kacamata modis sehari-hari.

III

Namun, mari kita gali lebih dalam. Secara psikologis, apa yang sebenarnya terjadi pada otak kita saat kita sadar bahwa kita mungkin sedang direkam setiap saat?

Dalam psikologi dan sosiologi, ada konsep terkenal bernama Panopticon. Ide ini awalnya adalah desain penjara buatan filsuf Jeremy Bentham, di mana narapidana bisa diawasi kapan saja oleh penjaga di menara tengah, tapi narapidana tidak bisa melihat apakah penjaga itu sedang melihat mereka atau tidak. Hasilnya? Karena merasa mungkin sedang diawasi, para narapidana akan mendisiplinkan diri mereka sendiri setiap detik. Mereka kehilangan kebebasan berekspresi.

Inilah yang pelan-pelan meracuni ruang publik kita. Ketika kita tahu bahwa orang di sebelah kita di kereta, di taman, atau di trotoar mungkin memakai kacamata yang sedang merekam, otak kita akan secara otomatis memproduksi hormon stres kortisol dalam jumlah kecil. Kita mulai melakukan self-censorship (sensor diri). Kita takut tertawa terlalu lebar. Kita takut berekspresi konyol. Ruang publik kehilangan fungsi aslinya sebagai tempat pelepas penat, dan berubah menjadi panggung audisi di mana kita dipaksa tampil sempurna agar tidak viral sebagai bahan olok-olok.

Tapi masalah utamanya belum berhenti di situ. Jika kamera televisi mendatangi kita, kita bisa mengangkat tangan dan bilang, "Maaf, saya tidak mau masuk TV." Itu adalah penolakan sadar (informed consent). Lalu, bagaimana cara kita menolak sesuatu yang bahkan tidak kita sadari keberadaannya?

IV

Di sinilah kita tiba pada realitas sains dan teknologi yang paling meresahkan. Jawaban dari pertanyaan apakah kita bisa menolak direkam oleh kacamata pintar orang lain adalah: secara praktis, kita hampir tidak bisa menolaknya.

Mengapa? Karena definisi "ruang publik" telah dijadikan senjata oleh perusahaan teknologi raksasa. Secara hukum klasik, ketika kita melangkah keluar rumah, kita dianggap melepaskan ekspektasi atas privasi. Kita boleh dilihat orang. Namun, yang dilakukan kacamata pintar bukanlah sekadar "melihat". Kacamata ini menangkap data biometrik. Lensa kecil itu menangkap jarak antara kedua mata kita, kontur tulang pipi, dan pola rahang. Semua itu diterjemahkan ke dalam angka matriks oleh algoritma kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Ini yang disebut ilmuwan komputer sebagai ambient surveillance (pengawasan ambien). Kamera itu tidak menargetkan kita secara khusus, tapi kita tersedot ke dalam ruang lingkupnya bagaikan debu yang masuk ke vacuum cleaner. Dan karena pemrosesan datanya terjadi di cloud dalam hitungan milidetik, bahkan sebelum kita sempat protes kepada si pemakai kacamata, wajah kita mungkin sudah terindeks di server entah di belahan dunia mana. Kita kehilangan kedaulatan atas wajah kita sendiri.

V

Kenyataan ini mungkin terdengar suram. Namun, tujuan kita membahas ini bukanlah untuk memelihara ketakutan, melainkan untuk membangun kesadaran kritis bersama. Kita sedang berada di fase transisi yang sama persis dengan orang-orang di tahun 1890 tadi.

Hukum selalu tertatih-tatih mengejar teknologi. Saat ini, perlindungan terbaik kita bukanlah regulasi yang belum sempurna, melainkan empati sosial. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menghentikan laju inovasi kacamata pintar. Namun, sebagai masyarakat, kita yang menentukan norma dan adabnya. Kita bisa mulai dengan menormalkan teguran sopan jika melihat seseorang merekam di ruang sempit. Kita bisa memilih untuk tidak membagikan video orang asing yang terekam tanpa izin di media sosial kita.

Pada akhirnya, menjaga privasi di masa depan bukan lagi tentang bersembunyi di balik tembok tinggi. Ini tentang bagaimana kita, teman-teman semua, sepakat untuk saling menghargai ruang tak terlihat di sekitar kita. Karena di dunia yang terus merekam tanpa henti, kebaikan dan rasa hormat pada otonomi orang lain adalah satu-satunya teknologi yang bisa menyelamatkan kemanusiaan kita.